Walfajri

Oleh: Walfajri
19 Oktober 2010


Apa itu Belajar?


Kimble mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif permanen di dalam behavioral potentiality (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari reinforced practice (praktik yang diperkuat).

Dari definisi belajar tersebut setidaknya terdapat lima syarat yang harus dipenuhi sebelum perubahan perilaku dapat dihubungkan dengan proses belajar, yaitu:

Pertama, belajar diukur berdasarkan perubahan dalam perilaku; dengan kata lain, hasil dari belajar harus selalu diterjemahakan ke dalam perilaku atau tindakan yang dapat diamati. Setelah menjalani proses belajar, pembelajar (learner) akan mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan sebelum mereka belajar.

Namun pertanyaanya: Apakah belajar pasti menghasilkan perubahan perilaku? Sebuah ilmu pengetahuan atau sains membutuhkan pokok persoalan yang dapat diamati, dapat diukur. Dalam ilmu psikologi pokok persoalan yang diamati itu adalah perilaku. Kita mempelajari perilaku sehingga kita bisa mengambil kesimpulan mengenai proses yang diyakini merupakan sebab dari perubahan perilaku yang kita lihat. Dalam kasus ini, proses itu dinamakan belajar.

Jadi, kebanyakan teoritisi belajar memandang belajar sebagai sebuah proses yang memperantarai perilaku. Menurut mereka, belajar adalah sesuatu yang terjadi sebagai hasil atau akibat dari pengalaman dan mendahului perubahan perilaku. Dalam kerangka definisi ini, belajar ditempatkan sebagai variabel pengintervensi (intervening) atau variable perantara. Variabel perantara ini adalah proses teoritis yang diasumsikan terjadi di antara stimuli dan respon yang diamati. Variabel independen (variabel bebas) (pengalaman) menyebabkan perubahan dalam variabel perantara (proses belajar), yang pada gilirannya akan menimbulkan perubahan dalam variabel dependen (variabel terikat) (perilaku).

Kedua, perubahan behavioral ini relative permanent; artinya, hanya sementara dan tidak menetap. Di sini setidaknya terdapat dua macam problem. Pertama, Seberapa lamakah perubahan perilaku harus bertahan sebelum dikatakan bahwa proses belajar telah kelihatan hasilnya? Aspek ini pada awalnya dimasukkan dalam definisi di atas untuk membedakan antara belajar dengan kejadian lain yang mungkin mengubah perilaku, seperti keletihan, sakit, pendewasaan, dan narkoba. Jelas, kejadian ini dan efeknya mungkin akan datang dan pergi dengan cepat, tetapi hasil dari belajar akan terus menetap sampai ia dilupakan atau muncul hasil belajar baru yang menggantikan hasil belajar yang lama. Jadi, keadaan temporer dan proses belajar akan memodifikasi perilaku, tetapi lewat belajar itulah modifikasi tersebut akan lebih relatif permanen. Namun, durasi modifikasi yang muncul dari belajar atau keadaan tubuh yang temporer itu tidak bisa ditentukan secara pasti. Problem lainnya terkait dengan fenomena yang menjadi perhatian sejumlah psikolog, yang disebut short-term memory (memori jangka pendek). Mereka menemukan bahwa jika informasi yang asing, seperti kata-kata yang tak bisa dipahami, diberikan kepada seseorang dalam suatu percobaan di mana informasi itu tidak diulang-ulang, orang itu akan mengingat kata-kata itu secara hampir sempurna selama sekitar tiga detik saja. Tetapi dalam waktu 15 detik selanjutnya, ingatan mereka turun hingga hampir ke titik nol atau lupa sama sekali.

Ketiga, perubahan perilaku itu tidak selalu terjadi secara langsung setelah proses belajar selesai. Artinya, hal-hal yang dipelajari mungkin tidak akan langsung dimanfaatkan. Atlet, misalnya, mungkin belajar posisi tertentu dengan melihat film dan mendengarkan penjelasan pelatih selama seminggu, namun mereka mungkin tidak menerjemahkan proses belajar itu ke dalam perilaku sampai tiba waktu pertandingan. Beberapa pemain bahkan tidak melakukan apa-apa selama waktu yang agak panjang karena sakit atau cidera.

Keempat, perubahan perilaku itu berasal dari pengalaman atau praktik (latihan). Jelas bahwa tak semua perilaku dipelajari. Perilaku yang lebih sederhana adalah hasil dari refleks. Sebuah reflex (refleks) dapat didefinisikan sebagai respon yang tak dipelajari lebih dahulu atau respon pembawaan internal dalam rangka bereaksi terhadap sekelompok stimuli tertentu. Bersin ketika hidung Anda tergelitik, kaki Anda tersentak mendadak ketika lutut Anda dipukul, atau secara mendadak menarik tangan saat tersengat api adalah contoh dari tindakan refleks. Perilaku refleks ini jelas tidak perlu dipelajari terlebih dahulu; ia adalah karakteristik bawaan genetic dari organisme, bukan hasil dari pengalaman.

Perilaku yang kompleks juga bisa merupakan karakteristik bawaan. Jika pola perilaku yang kompleks adalah warisan genetis, maka perilaku itu disebut sebagai contoh dari instinct (insting, naluri). Perilaku naluriah antara lain aktivitas seperti membangun sarang, migrasi, perilaku kawin, dan lain-lain. Burung dan ikan melakukan migrasi karena mereka punya insting migrasi; burung membangun sarang karena punya insting membangun sarang.

Jadi, agar perubahan perilaku bisa dikatakan berkaitan dengan proses belajar, perubahan itu harus relative permanent dan harus berasal dari pengalaman. Jika suatu organisme melakukan suatu pola tindakan yang kompleks, namun bukan berasal dari pengalaman, maka tindakan itu tidak bisa dikatakan sebagai perilaku yang dipelajari.

Kelima, pengalaman, atau praktik, harus diperkuat; artinya, hanya respons-respons yang menyebabkan penguatanlah yang akan dipelajari. Namun harus dibedakan antara penguatan (reinforcement) dan imbalan (reward). Meskipun kedua istilah itu kerap dianggap sama, namun setidaknya ada dua alasan mengapa anggapan itu kurang tepat. Pavlov, misalnya, mendefinisikan suatu penguat (reinforcer) sebagai unconditioned stimulus, yakni setiap stimulus yang menimbulkan reaksi alamiah dan otomatis dari suatu organisme, sedangkan imbalan dianggap sebagai sesuatu yang diinginkan. Penganut Skinnerian juga tidak mau menyamakan penguat dengan imbalan. Menurut mereka, pengnuat akan memperkuat setiap perilaku yang secara langsung mendahului kejadian penguat. Sebaliknya, imabalan biasanya dianggap sebagai suatu yang diberikan atau diterima hanya untuk prestasi yang layak pencapaiannya membutuhkan waktu dan energi, atau diberikan untuk tindakan yang dianggap diinginkan oleh masyarakat. Lebih jauh, karena perilaku yang diinginkan itu biasanya sudah lama ada sebelum perilaku tersebut diakui lewat pemberian imbalan, maka imbalan itu tidak bisa dikatakan memperkuat perilaku itu. Jadi menurut penganut Skinnerian, penguat akan memperkuat perilaku, namun imabalan tidak. Skinner (1986, dalam Hergenhahn & Olson, 2009) mengelaborasi poin ini:

Efek penguatan [dari penguat] akan hilang … ketika penguat disebut imbalan. Orang diberi imbalan, tetapi perilaku diperkuat. Jika, misalnya saat Anda sedang berjalan-jalan di jalanan, Anda menunduk lalu menemukan uang, dan jika uang itu memperkuat tindakan Anda, maka Anda akan cenderung sering-sering menundukkan kepala selama beberapa waktu, namun kita tidak bisa mengatakan bahwa Anda diberi hadiah karena menundukkan kepala. Seperti ditunjukkan oleh akar sejarah dari kata ini, imbalan mengimplikasikan kompensasi, sesuatu yang berkaitan dengan pengorbanan atau usaha. Kita memberi bintang jasa kepada pahlawan, gelar kepada mahasiswa, hadiah kepada pemenang, namun imbalan itu tidak secara langsung bergantung kepada apa-apa yang baru saja mereka lakukan, namun pada umumnya imbalan itu dianggap tidak pantas diberikan jika tidak ada usaha untuk meraihnya.

Sumber:
B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson, Theories of Learning.


Belajar Bahasa Inggris Cepat
Tanpa Grammar
Full Conversation
Join Now! It's Free!

0 Responses

Posting Komentar