25 Mei 2011
Oleh: Walfajri
Ada beberapa tahapan atau langkah yang perlu diperhatikan sebagai pedoman dalam penyusunan atau pengemabangan tes bahasa untuk pembelajaran bahasa Arab agar menghasilkan tes yang berkualitas baik, antara lain:
1. Menelaah silabus/kurikulum
Langkah pertama yang harus ditempuh sebelum menyusun soal tes adalah menelaah silabus/kurikulum, yang mencakup kompetensi dasar, indikator, dan pokok/sup pokok bahasan, sebagai acuan dalam penulisan soal tes.
2. Membuat kisi-kisi soal tes
Dalam membuat kisi-kisi soal, dapat dilakukan langkah-langkah berikut:
- Menuliskan kompetensi dasar dan indikator capaian hasil belajar yang terdapat dalam silabus/kurikulum;
- Menuliskan daftar pokok/sub pokok bahasan yang akan diujikan
- Menentukan jumlah butir soal setiap pokok/sub pokok bahasan, jumlah soal hendaknya representative untuk setiap pokok/sub pokok bahasan yang diujikan dengan pertimbangan pentingnya pokok/sub pokok bahasan tersebut. Selain itu, dalam menentukan jumlah soal juga perlu mempertimbangkan waktu yang disediakan untuk pelaksanaan tes;
- Menentukan bentuk soal tes, dalam menentukan bentuk tes, perlu mempertimbangkan karakteristik materi yang hendak diukur. Jika tes itu untuk mengukur pemahaman muradat, qawa’id, istima’, dan qira’ah, maka bisa digunakan bentuk tes pilihan ganda. Namun jika tes itu untuk mengukur kemampuan menulis dan berbicara, maka lebih tepat jika menggunakan bentuk tes uraian atau mengarang, tes lisan: dialog, wawancara, menceritakan gambar/ peristiwa/ pengalaman, dan pidato.
Penulisan butir soal harus mengacu dan sesuai dengan kisi-kisi soal yang telah dibuat sebelumnya. Di samping itu, penulisan soal juga harus memperhatikan rambu-rambu yang dipergunakan dalam telaah butir soal agar nanti tidak banayak revisi.
4. Menelaah butir soal
Telaah soal ini perlu dilakukan untuk memperbaiki kekeliruan atau kesalahan yang mungkin masih ditemukan dalam penyusunan soal, sehingga dapat dilakukan revisi/perbaikan yang diperlukan. Telaah soal ini akan lebih baik jika dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya atau teman sejawat agar lebih cermat dan obyektif. Jika dimungkankan, telaah soal sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang agar dapat saling melengkapi dan lebih meyakinkan.
5. Melaksanakan uji coba (try out) soal tes
Uji coba soal tes diperlukan agar soal tes tersebut benar-benar baik dan dapat dipertanggungjawabkan (misalnya akan dipergunakan untuk tes standar atau untuk penelitian). Namun, untuk keperluan pengujian di kelas sendiri, misalnya untuk ujian tengah semester dan akhir semester, uji coba tersebut tampaknya tidak dilakukan oleh guru/dosen.
6. Menganalisis butir soal dan jawaban
Berdasarkan data dari uji coba soal tes tersebut, selanjutnya dilakukan analisis butir soal dan jawaban dengan menggunakan rumus uji validitas dan reliabilitas hasil tes, serta uji tingkat kesukaran.
7. Memperbaiki dan merakit butir soal
Berdasarkan analisis soal tersebut, jika memang soal yang telah disusun belum memenuhi kualitas yang diharapkan, maka perlu diperbaiki atau direvisi seperlunya. Selanjutnya, butir-butir soal itu dirakit agar menjadi sebuah tes yang siap digunakan. Bentuk soal yang sejenis disusun dalam satu kelompok, dan butir soal diurutkan berdasarkan tingkat kesulitannya. Butir soal yang tingkat kesulitannya rendah (mudah) diletakkan di nomor-nomor awal, dan yang tingkat kesulitannya tinggi (sukar) ditempatkan di nomor-nomor akhir.
8. Melaksanakan tes
Agar tes tersebut dapat memberikan hasil yang benar, dikerjakan dengan jujur, dan sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan, pelaksanaannya harus dilakukan sebaik mungkin dengan pengawasan yang cermat, tetapi tidak menggangu konsentrasi peserta tes.
9. Menafsirkan hasil tes
Hasil tes berupa data kuantitatif (skor) perlu diinterpretasikan sehingga menjadi nilai yang merupakan informasi mengenai ketercapaian hasil pembelajaran.






Posting Komentar