Walfajri

Oleh: Walfajri

Otak kita ibarat sebuah prosesor computer yang mampu menampung program (baca: materi pelajaran) apa saja ketika kita belajar, termasuk bahasa Inggris dan bahasa Arab. Namun, semakin banyak program (baca: materi pelajaran) yang dimasukkan ke otak kita, maka semakin beratlah beban otak kita untuk menampungnya. Oleh karena itu, kita harus selalu meng-upgrade otak kita. Kita harus mampu mengelola otak kita dengan baik agar otak kita dapat menampung berbagai materi pelajaran, seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab dengan cepat.

Pengertian upgrade di sini bukan berarti otak kita harus diganti. Namun, lebih pada peningkatan kemampuan mengelola otak. Kita membutuhkan apa yang disebut dengan Brain Management. Dengan meningkatkan prosesor (otak) kita, maka berbagai materi pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Arab yang masuk ke otak kita akan dapat berjalan mulus. Inilah rahasia sukses belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab. Bagaimana kita mengelola otak kita? Ada tiga prinsip Brain Management yang perlu diketahui:

1. Gunakan Kedua Belah Otak Kanan dan Otak Kiri

Ketika kita belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab, kita telah terbiasa hanya mengandalkan satu belahan otak saja. Kita dipaksa untuk menghafal berbagai materi pelajaran yang merupakan wilayah otak kiri. Itulah sebabnya, daya hafal kita sangat pendek dan lemah. Hari ini kita menghafal mati-matian (untung ga’ mati beneran), satu minggu kemudian apa yang kita hafal sudah hilang, bablas entah ke mana, bahkan tak berbekas.

Mungkin Kamu sering kali mengalami, setelah guru/dosen berbusa-busa menerangkan materi kuliah bahasa Inggris dan bahasa Arab kepada siswa/mahasiswanya, tingkat pemahaman tentang materi yang disampaikan beragam. Ada yang 100% mengerti apa yang baru saja diterangkan, ada yang hanya nyantol 50%, 20%, bahkan ada yang tidak nyantol sama sekali alias tidak mengerti apa-apa (tidur kale’).

Ketika guru/dosen menerangkan pelajaran, ada siswa/mahasiswa yang benar-benar mendengarkan, ada yang setengah mendengarkan, bahkan pura-pura mendengarkan, artinya sebenarnya tidak mendengarkan sama sekali. Dipaksa bagaimanapun siswa/mahasiswa untuk mendengarkan, paling-paling hanya bertahan beberapa menit saja. Selanjutnya, tetap saja melamun, ngobrol, atau melanjutkan tidurnya kembali (weleh.. weleh..).

Mengapa terjadi demikian? Saat Kamu mendengarkan pelajaran, bahasa Inggris dan bahasa Arab misalnya, otak kiri Kamu yang bekerja. Ketika Kamu mendengarkan atau mencatat secara logis materi pelajaran yang disampaikan oleh guru/dosen, otak kiri Kamu kelebihan beban alias overloaded. Sedangkan otak kanan Kamu masing nganggur, tak heran jika akhirnya Kamu melamun dan bahkan ketiduran.

Seharusnya, belajar itu bisa seperti ketika kita membaca komik atau novel menarik yang kita senangi, yang membuat kita betah membacanya sampai berjam-jam. Atau seperti mendengarkan lagu-lagu/musik-musik favorit kita, yang membuat kita tak terasa kalau kita sudah berjam-jam mendengarkannya. Atau seperti menonton film-film bagus yang membuat kita asyik menyaksikannya tak terasa lama hingga selesai.

Intinya, belajar haruslah bersifat fun (menyenangkan). Melibatkan emosional, kesenangan, kreativitas, dan sebagainya. Dengan demikian, belajar akan melibatkan otak kanan dan otak kiri sekaligus. Ini akan memberi efek daya simpan/daya ingat jangka panjang pada otak kita dalam menangkap pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Arab yang baru saja kita pelajari.

Ketidak-seimbangan penggunaan otak kanan dan otak kiri akan menyebabkan ketidak-optimalan dalam menyerap materi pelajaran. Bahkan ini akan menimbulkan gangguan dalam belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab. Contoh gangguan tersebut antara lain:
• Mudah lupa
• Tidak bisa konsentrasi
• Tidak kreatif
• Otak merasa sudah penuh dan penat
• Daya tangkap pelajaran kurang

2. Belajar Bagaimana Cara Belajar yang Efektif dan Efisien

Saat kita sedang belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab di kelas ataupun sedang belajar di rumah, kita biasanya selalu menekankan pada kata APA ketimbang BAGAIMANA.

  • APA yang Kamu pelajari, bukan BAGAIMANA Kamu mempelajarinya.
  • APA yang dicatat, bukan BAGAIMANA mencatat yang efektif, efisien, dan menyenangkan.
  • APA yang dibaca, bukan BAGAIMANA membaca yang cepat, efisien, dan memberikan tingkat pemahaman yang bagus.
  • APA yang perlu difikirkan, bukan BAGAIMANA cara berfikir yang terbaik.

Sebagai contoh, saat kita belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab, yang jadi perhatian kita adalah macam-macam atauran grammar dan tenses atau nahwu-sharaf, sehingga kita terbelenggu harus menghafal macam-macam tenses atau kaidah nahwu-sharaf, dan sebagainya. Akhirnya, meskipun kita sudah bertahun-tahun belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab dari SD hingga S1, bahkan hingga S3 dan S krim atau S teller, tetap saja banyak yang belum bisa berbicara bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Ini disebabkan karena kita masih terlalu mengandalkan otak kiri yang kapasitasnya terbatas. Kita juga terlalu menekankan pada APA bukan BAGAIMANA. Jika Kamu belajar bagaimana cara belajar yang efektif dan efisien, hasilnya akan berbeda. Apalagi jika Kamu menemukan cara belajar yang menyenangkan.

3. Menggunakan Otak dengan Cara Alami

Mungkin Kamu bertanya, apakah selama ini kita belum menggunakan otak secara alami? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Namun, kebanyakan dari kita dalam belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab belum menggunakan otak secara alami.

Bagaimana menggunakan proses otak secara alami? Contohnya, ketika Kamu berkenalan dengan seseorang, Kamu tentu saling memperkenalkan nama. Misalkan orang itu bernama “Luna Maya”. Manakah yang Kamu ingat, ekspresi wajahnya ataukah tulisan “Luna Maya”nya? Tentu yang Kamu ingat adalah ekspresi wajahnya, bentuk muka, warna kulit, bentuk hidung, dan sebagainya. Bukan sederetan tulisan huruf namanya. Itu artinya, Kamu melibatkan otak kanan untuk berkenalan dengan seseorang.

Sekarang bandingkan dengan pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Arab. Apakah yang Kamu ingat tentangnya? Kamu tentu mencoba mengingat-ingat sederetan aturan-aturan macam-macam grammar dan tenses atau nahwu sharaf. Bukan nikmatnya dan asyiknya ketika ngobrol dengan turis yang cantik atau ganteng dengan bahasa Inggris di candi Borobudur misalnya. Itu artinya Kamu belum menggunakan otak kanan dan otak kiri secara bersamaan.

Penggunaan otak secara alami, dengan melibatkan otak kiri dan otak kanan secara bersamaan, merupakan upaya mengoptimalkan kedua belah otak. Bukan hanya membebankan pada satu otak saja. Beban yang berlebihan pada otak kiri akan menyebabkan seseorang merasa cepat lelah, cepat bosan, mudah lupa, melamun, tidak dapat berkonsentrasi, dan sebagainya.



0 Responses

Posting Komentar