Walfajri

24 Mei 2011
Oleh: Walfajri

Penggunaan istilah evaluasi, pengukuran, dan tes sering dikacaukan. Oleh karena itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu pengertian dan hubungan antara evaluasi, pengukuran, dan tes.

A. Evaluasi

Gronlund dan Linn, dalam M. Ainin dkk. (2006), mengemukakan pengertian evaluasi sebagai berikut: “Evaluation is a systematic process of collecting, analyzing, and interpreting information to determine the extent to which pupils are achieving instructional objectives.”

Pengertian tersebut menjelaskan bahwa evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data untuk menentukan apakah seorang siswa dipandang telah mencapai target pengetahuan atau keterampilan yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Dengan kata lain, evaluasi adalah suatu proses penentuan keputusan tentang kualitas suatu objek atau aktivitas dengan melibatkan pertimbangan nilai berdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan, dianalisis, dan ditafsirkan secara sistematis.

B. Pengukuran

Istilah pengukuran (measurement) didefinisikan oleh Gronlund dan Linn, dalam M. Ainin dkk. (2006) sebagai berikut: “Measurement is the process of obtaining a numerical description of the degree to which an individual processes a particular characteristic.”

Definisi tersebut menjelaskan bahwa pengukuran (measurement) adalah suatu proses untuk memperoleh deskripsi dalam bentuk angka-angka mengenai tingkat dari sifat atau kemampuan yang dimiliki seseorang. Jadi, pengukuran merupakan bagian dari evaluasi berupa prosedur pengumpulan data dan informasi numerik yang diperlukan sebagai salah satu pertimbangan pengambilan keputusan dalam evaluasi.

C. Tes

Tes merupakan salah satu jenis alat untuk memperoleh data numerik atau alat melakukan pengukuran yang hasilnya dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam evaluasi. Tes tersebut terdiri dari sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang menuntut jawaban atau tanggapan dengan tujuan mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengidentifikasi aspek tertentu dari orang yang dikenai tes. Dengan demikian, evaluasi merupakan konsep yang lebih umum, yang di dalamnya tercakup konsep pengukuran dan tes.

Uraian berikut dapat lebih memperjelas hubugan antara evaluasi, pengukuran, dan tes. Seorang guru bahasa Arab atau bahasa Inggris bermaksud melakukan evaluasi terhadap kemampuan membaca (qira’ah/reading) bahasa Arab atau bahasa Inggris para siswanya untuk menentukan apakah tujuan pembelajaran membaca bahasa Arab atau bahasa Inggris telah tercapai atau belum. Jika dalam evaluasi itu ternyata kemampuan membaca para siswanya masih rendah (di bawah standar yang ditetapkan), maka guru perlu meningkatkan latihan-latihan membaca bagi siswa.

Dalam kaitan ini, guru menghadapi dua hal penting. Pertama, ia harus memiliki data atau informasi untuk mengetahui secara pasti tingkat kemampuan membaca para siswanya. Guru perlu memikirkan apakah data yang dimaksud berupa angka-angka ataukah berupa pernyataan-pernyataan. Jika data berupa angka dipandang lebih akurat dalam menggambarkan tingkat kemampuan membaca, maka guru tersebut perlu melakukan pengukuran. Dalam hal ini, guru berpikir bahwa alat yang dipandang tepat untuk mengukur kemampuan membaca tersebut berupa tes. Oleh karena itu, guru perlu menyiapkan tes yang akan digunakan untuk mengukur kemampuan membaca bahasa Arab atau bahasa Inggris siswa.

Kedua, guru perlu memiliki kriteria tentang tingkat kemampuan yang dianggapnya telah memenuhi syarat atau belum. Penggunaan kriteria dan pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk menafsirkan data angka yang telah diperoleh merupakan kegiatan evaluasi. Hal ini tidak terdapat dalam pengukuran. Pengukuran terbatas pada penggalian data angka, sedangkan evaluasi melibatkan pertimbangan guru dalam menentukan apakah data angka yang telah diperoleh itu dapat dianggap memadai. Sebagai contoh, berdasarkan pertimbangan ketuntasan belajar, para siswa yang memperoleh angka 75 ke atas dipandang telah memiliki kemampuan yang cukup untuk melanjutkan program. Sebaliknya, mereka yang memperoleh angka 55 < 75 dianggap belum memadai dan perlu tambahan-tambahan latihan membaca. Adapun yang mendapat angka < 55 dipandang memerlukan pengulangan latihan secara lebih intensif.

0 Responses

Posting Komentar